Nusantara News Probolinggo — Jeritan petani Paiton menggema tanpa gema balik dari negara. Harga anjlok, kualitas tergerus, pasar dibanjiri tembakau luar daerah. Sementara itu, DKUPP Kabupaten Probolinggo justru terdengar pelan, ragu, dan sibuk merangkai kalimat klasik ,“masih diskusi".
Sikap DKUPP saat dikonfirmasi awak media yang memilih “memantau” alih-alih bertindak. Bukan sidak, bukan langkah darurat, hanya janji pemantauan harga. Di saat petani dan pedagang lokal menahan napas, birokrasi seperti berjalan di pasir hisap lambat, tenggelam, dan tak menolong siapa pun.
Padahal tembakau Paiton bukan tembakau sembarang. Ia punya ciri khas, aroma dan serat yang jadi identitas, seperti cap jari tanah pesisir utara. Namun identitas itu kini pudar, tergilas tembakau luar yang membludak tanpa kendali. Harga diperas, kualitas dipukul rata, petani dipaksa menerima nasib.
Presiden GAPKM, Juned ST , angkat suara dengan nada keras dan tak berbasa-basi.
“Ini bukan zamannya diskusi tanpa ujung. Petani sudah berdarah-darah, pedagang lokal megap-megap. DKUPP masih minta waktu? Apa-apaan ini? Negara harus hadir. Kalau bukan sekarang, kapan?” Tegas Juned.
Juned menambahkan, perlindungan harga dan kualitas tembakau Paiton adalah keniscayaan, bukan wacana.
“Tidak harus sidak dan cukup mantau harga. kerjaan DKUPP itu apa? Kabid-kabidnya ngapain? Kami tahu kepala dinasnya baru. Kami juga paham belum ada payung hukum. Tapi rakyat lapar tidak bisa menunggu payung. Bertindak dulu, lindungi dulu!” Katanya pedas,31/12/2025.
Menurutnya, dalih ketiadaan regulasi tak boleh jadi alasan pembiaran. Pemerintah daerah punya ruang diskresi, punya kewenangan koordinasi, punya nyali jika mau.
“Kalau tembakau Paiton dibiarkan mati, itu bukan sekadar gagal kebijakan. Itu pengkhianatan pada petani,” Tambah Juned, tajam seperti sabit di musim panen.
Bola panas ada di tangan DKUPP. Rakyat tak butuh notulen rapat, tak perlu bahasa aman. Yang dibutuhkan adalah langkah nyata , pengendalian pasokan, perlindungan harga, dan pengakuan atas kualitas khas tembakau Paiton. Diskusi boleh jalan, tapi tindakan tak boleh menunggu.
Karena di ladang-ladang itu, waktu adalah uang. Uang petani sedang dirampas perlahan dengan restu diam-diam dari negara yang terlambat datang.
(MH**)

