Nusantara News Probolinggo — Seorang oknum LSM berinisial SYD dari Patemon Kulon Kecamatan Pakuniran Kabupaten Probolinggo kini jadi buah bibir. Bukan karena prestasi, tapi karena diduga kabur dari rumahnya saat sejumlah persoalan hukum mengepung dari segala arah.
Indikasi kaburnya SYD bukan isapan jempol. Jejak digital di ponselnya menunjukkan posisi berada di atas pesawat, disertai tulisan singkat bernada santai, “jeu lah” (bahasa Madura ) yang berarti sudah jauh. Sebuah kalimat ringan, tapi maknanya berat. Seolah masalah bisa ditinggal bersama awan dan landasan pacu.
Seorang rekan SYD yang masih satu kecamatan menyebut, dugaan kabur ini tak lepas dari tumpukan kasus yang sedang dihadapi.
“Kalau lari, itu bukan solusi. Justru nambah masalah. Keluarga yang ditinggal pasti kena imbasnya. Dosa berapa kali itu,” Ujarnya, Jumat (23/1), dengan nada geram.
Informasi yang dihimpun media ini menguatkan dugaan tersebut. Dari sederet persoalan, kasus mobil rental mencuat ke permukaan. Korbannya warga Bucor Wetan, Kecamatan Pakuniran, dengan nilai kerugian mencapai Rp40 juta. Angka yang bukan receh, apalagi jika ditutup dengan sikap menghilang.
LSM yang seharusnya berdiri di garis kontrol sosial, mengawasi, mengadvokasi, dan memperjuangkan keadilan kini justru diduga menghindari pertanggungjawaban. Ironi yang pahit, seperti janji manis yang gugur sebelum ditepati.
Jika benar kabur, langkah itu hanya mempertebal kecurigaan. Menghilang bukan membersihkan nama, malah mengukir stigma. Masalah yang ditinggal tak pernah benar-benar pergi. Ia menunggu di tikungan, menagih dengan bunga kekecewaan.
Masyarakat Pakuniran berharap aparat penegak hukum bertindak tegas dan transparan. Siapa pun, terlebih yang membawa bendera lembaga, tak boleh kebal hukum. Keadilan bukan pesawat yang bisa ditumpangi untuk pergi , Ia akan selalu mendarat, cepat atau lambat.
(MH**)

