Peringati Hari Jadi Kota Probolinggo ke 667, Pecahkan Rekor MURI di Batik in Motion 2026

Sudarsono Nusantara

Nusantara News Probolinggo, - Dalam rangka memperingati Hari Jadi Kota Probolinggo yang ke 667,Ribuan warga turun ke jalan dalam pagelaran _Batik in Motion 2026. Acara digelar di depan Rumah Dinas Walikota, Jum'at (4/9/2026).

Wali Kota Probolinggo, dr. H. Aminuddin hadir langsung membuka kegiatan. Turut hadir juga unsur Forkopimda, kepala daerah se-Jawa Timur, tokoh masyarakat, hingga pelaku UMKM dan desainer lokal.

"Ini bukan sekadar fashion show. Ini gerakan bersama untuk menghidupkan batik sebagai budaya sekaligus penggerak ekonomi," ujar Aminuddin selaku walikota .
Puncak acara ditandai dengan penyerahan piagam rekor MURI. Dewan Perajin Nasional Kota Probolinggo menerima penghargaan tersebut, didampingi Wali Kota dan Ibu Wakil Wali Kota.

Rekor yang dipecahkan adalah kategori "Peserta Pawai Batik Terbanyak". Catatan MURI menyebut ribuan peserta dari jenjang SD, SMP, SMA, serta masyarakat umum ikut serta dengan mengenakan busana batik beragam motif.

Anak-anak sekolah berjalan beriringan dengan komunitas dan perajin. Ada batik tulis, batik cap, hingga karya kolaborasi desainer muda yang dipadukan dengan potongan busana modern.

"Sekitar 2800 peserta yang hadir acara Ini ,bukti kecintaan masyarakat Probolinggo terhadap batik," kata perwakilan MURI saat menyerahkan piagam.

Pemkot Probolinggo sengaja mengemas Batik in Motion sebagai ruang promosi. Selain pertunjukan busana, ada bazar UMKM, pameran perajin, dan demo membatik langsung.

Pemerintah daerah menyebut batik punya rantai ekonomi panjang. Mulai dari penenun, perajin, UMKM, desainer, sampai sektor pariwisata bisa ikut terdampak.

"Batik harus naik kelas. Tidak hanya dilestarikan, tapi juga dijual, diekspor, dan jadi identitas Kota Probolinggo," tegas Aminuddin.

Kepala daerah dari berbagai wilayah di Jawa Timur yang hadir juga menilai kegiatan ini bisa jadi contoh kolaborasi pelestarian budaya. 

Panitia menargetkan Batik in Motion bisa digelar rutin setiap tahun dengan skala lebih besar. Tujuannya dua: menguatkan identitas budaya dan mendongkrak ekonomi kreatif.

"Generasi muda harus bangga pakai batik. Kalau anak SD sampai SMA saja mau, berarti batik tidak akan mati," ujar salah satu desainer lokal yang karyanya ikut dipamerkan.

Dengan rekor MURI sebagai "kado" HUT ke-667, Pemkot berharap Probolinggo tidak hanya dikenal lewat sejarah dan pantainya, tapi juga sebagai kota yang aktif menggerakkan budaya dan ekonomi kreatif berbasis batik.

Batik bergerak, ekonomi jalan, budaya tetap hidup. Kalimat itulah yang menggema sepanjang malam di Kota Probolinggo."pungkasnya
(Dar**)