Semarak HUT RI ke-81, Desa Badian Gelar Karnaval Budaya Secara Swadaya.

Redaksi

 


Nusantara News  Jember – Pemerintah Desa Badian, Kecamatan Bangsalsari, Kabupaten Jember, menggelar kegiatan karnaval budaya dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81. Acara yang berlangsung hari Sabtu 3/10/2026 dan cukup meriah.


 Ini menjadi ajang kebersamaan sekaligus wadah penampung aspirasi dan hiburan para pemuda  serta warga masyarakat setempat.


​Kepala Desa Badian, Purnanto, menyampaikan bahwa karnaval tahun 2026 ini dirancang bukan sekadar hiburan tahunan biasa, melainkan sebagai pesta rakyat yang mengedepankan nilai kegotong Royongan dan kerukunan warga.

​"Karnaval Desa Badian tahun 2026 ini mengarah pada kebersamaan dan menampung aspirasi pemuda dan masyarakat sesuai hobinya.


 Pemerintah desa bersama tokoh masyarakat berusaha memenuhi hal tersebut. Sesuai semboyan warga Badian, 'lek rukun', apa yang kita inginkan bisa terwujud," ujar Purnanto saat diwawancarai di lokasi kegiatan.


​Diikuti sekitar 3.000 Peserta dari 5 Dusun dan sebelum m pelepasan carnaval, di awali dengan pelepasan ribuan merpati  sebagai rangkaian acara HUT RI ke 81, Karnaval tahun ini merupakan partisipasi yang cukup besar dari masyarakat.


 Sebanyak kurang lebih 16 kelompok/grup berparade menyusuri rute karnaval  sepanjang kurang lebih 7,1 kilometer, dimulai dari Lapangan Kemuningsari Lor.


​Seluruh 5 dusun dan 11 padukuhan yang ada di Desa Badian turut serta mengirimkan perwakilan grupnya untuk menyemarakkan acara tersebut.


 Menariknya, seluruh kegiatan ini murni bersumber dari swadaya masyarakat, di mana pihak pemerintah desa berperan sebagai fasilitator pendukung.


​"Ini murni swadaya masyarakat Desa Badean dan pihak Pemerintahan desa memfasilitasi dan membantu hal-hal kecil. Meski tidak ada sistem penilaian atau lomba formal, kami memberikan pemantauan khusus dan bentuk penghargaan bagi grup-grup yang berpartisipasi atas antusiasme mereka," tambah Purnanto.


​Penggunaan sistem suara bervolume tinggi (sound horeg)—seperti merek Brewog yang kerap memicu pro-kontra—turut menjadi perhatian utama pihak penyelenggara.


 Untuk memastikan acara berjalan aman dan tertib sesuai imbauan dari Kapolsek serta Polres Jember, pihak pemerintah desa telah melakukan serangkaian langkah antisipasi.


​Sebelum kegiatan dimulai, panitia telah menelusuri rute parade untuk memetakan rumah warga yang tergolong tua, rentan, atau pemukiman yang padat penduduk itu juga menjadi pemikiran dan pertimbangannya.


 Langkah-langkah preventif seperti melakban kaca rumah warga telah dilakukan. ​Tak hanya itu, Kepala Desa Badian secara tegas menjamin akan mengganti rugi jika terjadi kerusakan fisik akibat getaran suara selama Karnaval berlangsung.


​"Kami siap mengganti rugi apabila ada kerusakan, seperti kaca pecah atau dampak negatif lainnya. Untuk teknis di lapangan, pembatasan subwoofer disepakati maksimal 12 sub. Kami juga mengimbau koordinator sound system agar menyesuaikan volume suara, khususnya di area permukiman padat. Yang penting bunyi dan menghibur, jangan sampai merugikan masyarakat, jelasnya.


​Rangkaian acara karnaval ini ditargetkan rampung menjelang tengah malam dengan situasi yang kondusif, aman, dan tertib. Pihak desa berharap kegiatan serupa pada tahun-tahun mendatang dapat terselenggara dengan lebih meriah dan sukses, imbuhnya. 

(Sam)