Nusantara News Probolinggo - Sumberanyar seolah sedang berdiri di bawah sorot lampu. Sebuah penghargaan bergengsi baru saja singgah, tertangkap kamera dalam foto yang kini ramai dibicarakan. Senyum, piagam, dan aura optimisme berpadu, seperti pagi cerah setelah hujan panjang. Tapi jangan salah, ini bukan cerita tentang berpuas diri justru sebaliknya.
Penghargaan yang diraih Pemerintah Desa Sumberanyar bukan sekadar simbol seperti cermin besar yang memantulkan kerja keras sekaligus memperlihatkan noda kecil yang masih perlu dibersihkan.
Kepala Desa Sumberanyar, Andika Prayogo, S.E., dengan nada tenang namun penuh tekanan makna menegaskan bahwa capaian ini bukan garis finis.
“Penghargaan yang kami peroleh Desa Sumberanyar bukan untuk berpuas diri, tapi justru untuk meningkatkan kualitas kinerja pelayanan terhadap warga Desa Sumberanyar, baik dari sektor pendidikan, kesehatan, hingga tata kelola pemerintahan dan keuangan,” Ujar Andika.
Kalimat itu meluncur sederhana, tapi menggigit. Seperti angin gunung, dingin namun menyegarkan. Di balik penghargaan, ada beban moral yang ikut naik pangkat. Pelayanan publik tidak boleh stagnan apalagi jumawa. Warga adalah kompas bukan penonton.
Pemerintah Desa Sumberanyar, lanjut Andika, tengah memeras tenaga dan pikiran demi memenuhi tuntutan sistem menuju desa mandiri. Namun ia tak menelan mentah-mentah jargon. Ada sikap kritis yang jarang terdengar dari pejabat desa.
“Lebih baik menjadi desa maju daripada menjadi desa mandiri apabila dalam memenuhi sistem tidak sesuai dengan keadaan desa,” Tegasnya,17/12/2025.
Pernyataan itu seperti tamparan halus bagi birokrasi yang gemar memoles data. Sumberanyar memilih jalan yang jujur, meski terjal. Mengisi sistem sesuai fakta di lapangan, bukan sekadar demi status, tapi agar tahu persis di mana letak luka dan celah.
Menurut Andika, dengan data yang apa adanya, desa bisa membaca dirinya sendiri. Kekurangan tak lagi ditutup karpet, tapi dijadikan peta. Dari situlah analisa program desa maupun program pemerintah pusat bisa lebih tepat sasaran, tak salah bidik, tak asal copy paste.
Foto penghargaan itu bukan sekadar dokumentasi akan tetapi menjadi pengingat, bahkan peringatan. Bahwa prestasi adalah janji baru. Janji untuk bekerja lebih rapi, lebih peka, dan lebih manusiawi. Di Sumberanyar, kilau piagam tak membutakan mata justru membuka pandangan lebih lebar ke depan.
(MH**)

