Nusantara News Probolinggo - Gelombang aspirasi buruh kembali mengalir, dan kali ini suaranya menggema lebih jernih. Musthofa, tokoh masyarakat yang dikenal aktif di ranah sosial-politik lantang menyuarakan transparansi menyatakan dukungan penuh terhadap aksi damai Serikat Pekerja KC FSPMI Kabupaten Probolinggo yang digelar hari Kamis ,18/12/2025. Baginya, turun ke jalan bukan urusan kepentingan pribadi atau kelompok, melainkan panggilan nurani demi kepentingan rakyat Probolinggo.
“Menyampaikan pendapat di muka umum itu hak konstitusional. Ini bukan soal siapa, tapi soal keadilan", Tegas Musthofa. Ia menilai, tuntutan buruh terutama soal upah dan pemenuhan hak dasar hidup layak harus ditempatkan sebagai skala prioritas oleh OPD terkait. Jika diabaikan, persoalan ini berpotensi menjadi bom waktu yang suatu saat meledak, duar! menyisakan masalah yang lebih besar.
Kritik pedas pun ia lontarkan ke praktik lama yang masih membandel. Musthofa meminta menghentikan budaya “Asal Bapak Senang” ( ABS ) yang seolah-olah menutup mata dari problem buruh yang nyata,19/12/2025.
“Jangan pura-pura tidak ada masalah. Itu berbahaya,” Ujarnya, lugas. Menurutnya, kebijakan setengah hati hanya memperpanjang derita dan memperlebar jurang kepercayaan.
Tak berhenti di situ, Musthofa juga menyentil kalangan pengusaha. Ia mengingatkan agar berhenti bermimpi manis soal kontribusi daerah jika masih melanggar aturan dan ketentuan yang berlaku. “Kontribusi itu lahir dari kepatuhan, bukan dari pelanggaran,” Katanya. Ia menegaskan, menggerus prinsip dasar hak buruh sama saja dengan menanam ranjau sosial yang kapan saja bisa meledak.
Di tengah kritik tajam itu, Musthofa menyalakan obor harapan. Ia menyampaikan optimisme besar kepada Pemerintahan Baru Kabupaten Probolinggo menuju Probolinggo SAE. Harapannya jelas, semua praktik keculasan, kepicikan, dan ABS segera dihentikan. “Ini momentum bersih-bersih dan Berbenah. Kalau mau maju, keberpihakan harus nyata,” Ucapnya.
Aksi damai FSPMI, bagi Musthofa, adalah pengingat bahwa pembangunan tak boleh menyingkirkan mereka yang menggerakkan roda produksi. Buruh bukan angka, bukan statistik. Mereka adalah denyut nadi. Dan ketika denyut itu diabaikan, irama daerah bisa sumbang.
Pesannya sederhana namun menggetarkan, " Dengarkan buruh, taati aturan, hentikan kepura-puraan, Pengusaha jangan memperdaya pemerintah dalam investasi. Dengan begitu, Probolinggo SAE tak sekadar slogan melainkan jalan pulang menuju keadilan yang lama dinanti.
(MH**)

