Nusantara News Probolinggo — Udara di Perum Asba, Asembakor Kraksaan, seolah mengendap sejenak ketika rombongan Komisioner KPU Kabupaten Probolinggo melangkah masuk ke markas Partai Buruh. Pertemuan itu bukan sekadar agenda formal, tetapi semacam jabat tangan panjang yang menandai awal sinergi baru menjelang Pemilu 2029. Ada semacam energi optimistis yang menggantung, seperti lampu kecil yang mulai menyala menjelang senja.
Kunjungan KPU kali ini berfokus pada proses pemutakhiran data partai politik memastikan apakah susunan kepengurusan masih tetap atau telah berubah serta peninjauan langsung keberadaan kantor. Di sisi lain, diskusi santai namun penuh makna berkembang tentang bagaimana Pemilu 2029 bisa lebih demokratis, lebih inklusif, dan lebih menggugah partisipasi masyarakat. Evaluasi terhadap Pileg 2024 pun disentuh, menjadi cermin bersama untuk melangkah lebih mantap.
Ketua Partai Buruh Kabupaten Probolinggo,Alex Putra Wicaksana, menyampaikan ucapan terima kasih dengan senyum yang terasa tulus. Ia menyebut kehadiran KPU sebagai “angin segar” yang membantu partainya bersiap menghadapi gelanggang politik mendatang. Menurutnya, ada banyak hal yang harus dipoles mulai dari penguatan kader, strategi komunikasi, hingga konsolidasi struktur akar rumput agar Partai Buruh tak sekadar hadir, tetapi juga mampu meloloskan wakilnya ke kursi legislatif, 10/12/2025.
Di tempat yang sama, Edi Suprapto, Bendahara Partai Buruh, ikut menambahkan warna dalam diskusi. Ia membahas isu-isu politik nasional dan dinamika pra-pemilu yang tengah berlangsung di tubuh KPU. Pembicaraannya mengalir seperti arus sungai yang mencari muara, memperkuat pemahaman kader mengenai lanskap politik yang semakin dinamis.
Menanggapi itu, Komisioner KPU Kabupaten Probolinggo, Bayu , memaparkan sederet agenda penting yang kini sedang berjalan. Mulai dari pendataan pemilih baru, verifikasi pemilih yang telah meninggal, hingga pemilih yang bekerja atau menempuh pendidikan di luar negeri. Tak hanya itu, KPU juga tengah giat mengembangkan program podcast dengan narasumber kompeten sebagai langkah meningkatkan kinerja sekaligus memperluas edukasi politik kepada publik. Evaluasi terhadap pemilu legislatif tahun lalu pun dijadikan fondasi untuk bekerja lebih akurat dan responsif.
Pertemuan penuh keakraban itu berakhir dengan nuansa harapan bahwa partai politik dan penyelenggara pemilu bukanlah dua kutub yang berjarak, melainkan dua roda yang harus seirama agar demokrasi benar-benar bergerak. Di markas sederhana yang siang itu dipenuhi dialog dan senyum, sepertinya roda itu mulai menemukan putaran yang lebih halus.
(MH**)

