Nusantara News Probolinggo - Hujan semalam seperti mengetuk pintu kesadaran dengan keras. Air datang tanpa permisi, menggenangi jalan, merayap ke rumah warga, dan menyesakkan aktivitas di jantung ibu kota Kabupaten Probolinggo, Kraksaan. Wilayah Probolinggo bagian timur yang selama ini relatif tenang, kini ikut merasakan getirnya banjir sebuah peristiwa yang sebelumnya nyaris tak pernah terjadi.
Presiden GAPKM, Juned ST, menyampaikan keprihatinan mendalam atas kejadian tersebut. Menurutnya, banjir di Kraksaan bukan sekadar bencana musiman, melainkan sinyal keras bahwa ada sesuatu yang perlu segera dibenahi.
“Baru sekarang Kraksaan mengalami banjir. Sebelumnya tidak pernah terjadi. Ini pertanda apa?” Ujarnya, mempertanyakan kesiapan dan langkah mitigasi dari pemerintah daerah, 22/2/2026.
Katanya lagi, " Pemerintahan SAE Kabupaten Probolinggo pada waktu Pilkada didukung penuh dan harapan besar dari masyarakat seharusnya lebih mudah mengatasi permasalahan yang terjadi , bila harapan indah dari masyarakat tidak terwujud maka akan menjadi sebuah kenangan yang berlalu".
Ia menilai, semestinya pengalaman banjir di wilayah Probolinggo bagian barat beberapa waktu lalu menjadi pelajaran berharga. Mitigasi seharusnya tidak berhenti pada wacana atau laporan di atas meja. Ketika barat sudah pernah terdampak, timur seharusnya sudah diantisipasi. Namun kenyataannya, air justru datang lebih dulu dibandingkan kesiapan.
Dampak di lapangan pun mulai terasa. Di beberapa titik, seperti Sumber Centeng, infrastruktur mengalami kerusakan hingga jalan ambruk. Kondisi ini tidak hanya mengganggu mobilitas warga, tetapi juga berpotensi menekan stabilitas ekonomi daerah. Aktivitas tersendat, distribusi terganggu, dan kepercayaan investor bisa ikut meredup jika persoalan dasar seperti infrastruktur dan pengendalian banjir tidak segera ditangani secara serius.
Juned ST juga menyoroti bahwa banjir di Kabupaten Probolinggo sudah terjadi hingga dua kali, namun belum terlihat gebrakan nyata yang berdampak langsung. Ia mengingatkan, jika penanganan hanya mengandalkan anggaran pusat atau terbatas pada kemampuan fiskal daerah tanpa langkah strategis dan percepatan di lapangan, maka yang lahir hanya teori, program, dan rencana. Sementara masyarakat membutuhkan tindakan cepat, bukan sekadar konsep.
Meski demikian, di tengah kritik yang tajam, Juned ST tetap memberikan apresiasi terhadap kinerja Pemerintah Kabupaten Probolinggo dan OPD terkait. Upaya yang telah dilakukan diakui sebagai langkah awal, meskipun hasilnya masih jauh dari harapan masyarakat. Ia berharap ke depan pemerintah tidak hanya bergerak saat bencana datang, tetapi mampu membaca tanda-tanda alam lebih dini sebelum air kembali naik dan kepercayaan publik kembali surut.
Banjir di Kraksaan kini bukan sekadar genangan. Ia adalah cermin. Cermin tentang kesiapan, tentang prioritas, dan tentang seberapa cepat pemerintah mampu menjawab kegelisahan rakyat. Sebab ketika air datang lagi nanti, masyarakat tentu berharap bukan lagi sekadar bantuan darurat melainkan bukti bahwa daerah ini benar-benar belajar.
(MH**)

