Nusantara News Probolinggo - Angin Ramadan berembus pelan, tapi bara amarah Rakyat Jawa Timur justru menyala diam-diam, dalam, dan menunggu ledakan. Nama Anwar Sadad kembali berputar di pusaran kasus dugaan korupsi dana hibah Jatim, seolah tak pernah benar-benar benar-benar pergi dari radar kecurigaan.
Kasus ini bukan sekadar angka-angka dingin dalam laporan. Ia menjelma seperti luka lama yang tak kunjung sembuh menganga di tengah kepercayaan rakyat yang perlahan retak. Dana hibah yang seharusnya menjadi napas masyarakat justru diduga berubah arah, menguap di lorong-lorong kepentingan elite yang sulit disentuh.
Di tengah kabut yang semakin pekat, suara lantang datang dari Presiden GAPKM, Juned ST. Dengan nada yang tajam, ia menegaskan bahwa rakyat Jawa Timur bersama GAPKM tidak lagi membutuhkan janji atau basa-basi, melainkan tindakan nyata yang bisa dirasakan langsung oleh publik.
Menurutnya, rakyat hanya menginginkan satu hal sederhana namun krusial, yakni keberanian Komisi Pemberantasan Korupsi untuk segera menangkap para tersangka, termasuk Anwar Sadad Cs, sebagai bukti bahwa hukum tidak tunduk pada kekuasaan dan benar-benar mampu menembus lapisan elite politik.
Pernyataan tersebut menjadi cermin dari kekecewaan panjang masyarakat terhadap wajah penegakan hukum yang kerap terlihat timpang. Ia menyoroti bahwa publik selama ini mempertanyakan mengapa sebagian tersangka masih tampak leluasa, sementara yang lain sudah lebih dulu ditahan, sehingga memunculkan kesan adanya ketidakadilan yang terus berulang.
Sorotan tajam sepenuhnya tertuju pada KPK, dengan harapan besar bahwa momen Lebaran dapat menjadi titik pembuktian keberanian hukum di negeri ini. Rakyat menanti bukan sekadar janji, melainkan langkah konkret yang mampu menjawab harapan lama bahwa keadilan tidak lagi hanya menjadi simbol, melainkan benar-benar hadir dan dirasakan oleh rakyat.
(MH**)

