Jawa Timur di Ujung Tanduk, APMP Jatim Melangkah, Audiensi ke KPK Disorot, Desakan Bersih-Bersih Makin Menggema

Redaksi

 


Nusantara News Probolinggo - Langit Jawa Timur terasa mendung, bukan karena hujan melainkan karena bayang-bayang kasus dugaan korupsi dana hibah yang belum juga benar-benar tuntas. Di tengah riuh yang tak kunjung reda, Aliansi Pemuda dan Mahasiswa Peduli (APMP) Jatim memilih tidak diam. Mereka melangkah, membawa suara yang selama ini tercekat di tenggorokan publik , audiensi ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).


Langkah ini mendapat dukungan keras dari LSM GAPKM melalui Presidennya, Juned ST. Baginya, apa yang dilakukan APMP bukan sekadar audiensi ini adalah alarm keras yang dipukul berulang-ulang agar negeri ini tidak terus tertidur dalam kenyamanan semu. “Ini bukan lagi soal formalitas. Ini tentang keberanian menantang gelap yang terlalu lama dibiarkan,” Ujarnya tajam, 16/4/2026 saat dikonfirmasi di Istana Naga.


Juned ST menegaskan bahwa audiensi tersebut harus menjadi pintu masuk pembongkaran lebih luas terhadap dugaan bancakan dana hibah APBD Jawa Timur 2019–2023. Ia menyebut, publik sudah terlalu sering disuguhi drama hukum tanpa akhir, sementara para pihak yang diduga terlibat masih melenggang bebas, bahkan tetap menikmati fasilitas negara.


Sorotan paling keras diarahkan kepada sejumlah nama yang disebut dalam pusaran kasus, termasuk Anwar Sadad dan Moch. Mahrus. Keduanya, menurut Juned, menjadi simbol ironi yang pahit di satu sisi menjabat sebagai wakil rakyat, di sisi lain terseret dalam dugaan kasus yang melukai kepercayaan publik.


“Bagaimana mungkin seseorang yang diduga terlibat dalam skandal dana rakyat masih bisa duduk nyaman di kursi empuk, menikmati fasilitas negara, seolah tidak terjadi apa-apa? Ini bukan sekadar memalukan, ini mengerikan,” Tegas Juned dengan nada dingin namun menghantam.


Ia bahkan menyebut kondisi ini seperti luka terbuka yang sengaja tidak diobati. Bau busuknya menyebar, tapi semua pura-pura tidak mencium. “Kalau hukum hanya tajam ke bawah dan tumpul ke atas, maka jangan salahkan rakyat jika kepercayaan itu berubah menjadi kemarahan. Dan ketika kemarahan itu meledak, tidak ada yang bisa mengendalikannya,” Lanjutnya.


APMP Jatim, dalam hal ini, dinilai menjadi representasi keberanian generasi muda yang muak dengan stagnasi penegakan hukum. Audiensi ke KPK bukan sekadar agenda ,ini adalah tekanan moral, dorongan agar lembaga anti rasuah tidak ragu mempertegas status hukum para pihak yang sudah lama menggantung di ruang abu-abu.


Di akhir pernyataannya, Juned ST mengingatkan bahwa sejarah selalu mencatat siapa yang berdiri di sisi kebenaran dan siapa yang memilih bersembunyi di balik jabatan. “Kalau hari ini masih ada yang merasa kebal hukum, ingat saja waktu itu seperti air. Diam, tapi pasti menggerus. Dan ketika runtuh, tidak ada yang tersisa selain penyesalan.”

(MH**)