Petani Talang Mengamuk! Jalan Tol Probowangi Diblokade, PT PP Dituding Abai

Redaksi

 


Nusantara News Probolinggo - Langit Dusun Talang Desa Sumberanyar Paiton Probolinggo siang itu terasa lebih panas dari biasanya. Bukan karena matahari, tapi karena bara amarah para petani yang akhirnya tumpah ruah. Tanpa aba-aba, tanpa koordinasi, puluhan petani nekat menutup akses Jalan Tol Probowangi Paket 3 sebuah aksi spontan yang bikin semua pihak tersentak.


Aksi ini bukan tanpa sebab. Akses jalan di bawah jembatan tol yang selama ini jadi urat nadi aktivitas petani, kini tak bisa dilalui. Jalan itu rusak, air tergenang, seolah dilupakan. Para petani yang biasanya menyusuri jalur itu untuk ke sawah, kini seperti kehilangan arah dan kesabaran.


Tanpa sepengetahuan Pemerintah Desa Sumberanyar maupun aparat kepolisian, warga bergerak cepat. Blokade dilakukan di Jalan tol yang biasanya jadi simbol kemajuan, mendadak berubah jadi panggung protes rakyat kecil. Truk dan kendaraan yang melintas terhenti. Suasana mencekam, tapi penuh pesan, kami tidak bisa terus diabaikan.

Sorotan tajam pun mengarah ke pihak pelaksana proyek, PT PP. Hasan , Petani Warga dusun talang  menilai perusahaan tersebut lalai, bahkan dianggap menutup mata terhadap dampak yang ditimbulkan. Surat dilayangkan melalui pemerintah desa tapi nihil jawaban. Seolah jeritan petani tenggelam di balik gemuruh alat berat.


Namun, situasi panas itu tak dibiarkan membara terlalu lama. Pemerintah bergerak cepat. Kepala Desa Sumberanyar, Andika Prayogo, turun langsung ke lokasi. Bersama Kapolsek Paiton, Riyono, dan Kasat Intelkam Polres Probolinggo, Hartanto, mereka mencoba meredam emosi yang sudah di ujung tanduk, Selasa (28/04/2026).


Dialog pun digelar di tengah jalan yang masih diblokade. Kata demi kata mengalir, menenangkan suasana yang sempat memuncak. Perlahan, amarah petani mulai mereda. Ada harapan yang disulut kembali.


Di tempat yang sama, perwakilan PT PP akhirnya muncul. Dalam mediasi itu, disepakati bahwa pihak perusahaan akan segera melakukan perbaikan mulai hari Selasa tanggal 28 April 2026 sesuai tuntutan petani. Alat berat berupa ekskavator akan didatangkan, dan jalan yang rusak akan dirabat beton agar bisa kembali dilalui.


Seiring kesepakatan itu, warga pun membuka blokade. Mereka meninggalkan jalur tol, tapi tidak dengan luka yang sepenuhnya sembuh. Ini bukan sekadar soal jalan, ini tentang didengar atau diabaikan.


Para Petani Dusun Talang mengirim pesan keras, ketika suara rakyat tak digubris, jalan tol pun bisa berhenti. Dan ketika kesabaran habis, yang tersisa hanyalah keberanian.

(MH**)