Sentuhan Humanis di Tengah Bara , Kapolsek Paiton Riyono Turun Langsung Redam Amarah Petani Talang

Redaksi

 


Nusantara News Probolinggo — Siang itu, udara di Dusun Talang, Desa Sumberanyar, terasa lebih panas dari biasanya. Bukan sekadar terik matahari, tapi juga bara emosi para petani yang memuncak. Jalan tol Probowangi Paket 3 mendadak diblokade. Aksi spontan, tanpa aba-aba, tanpa seremoni. Sebuah jeritan sunyi yang akhirnya meledak.


Di tengah situasi yang nyaris tak terkendali, Kapolsek Paiton, Riyono, hadir bukan sekadar sebagai aparat, melainkan sebagai penenang. Ia datang, berdiri di antara kerumunan, menyerap amarah yang bergulung seperti ombak. Tak ada jarak. Tak ada sekat. Hanya dialog yang mengalir, perlahan mencairkan suasana.


Akar persoalan begitu jelas. Para petani kecewa. Akses jalan di bawah jembatan tol yang selama ini menjadi urat nadi aktivitas mereka, kini tak bisa dilintasi. Seolah ada pintu yang tiba-tiba ditutup rapat, tanpa kunci, tanpa penjelasan. Proyek besar berjalan, tapi langkah kecil petani justru terhenti.


Namun di titik itulah, sosok Riyono memainkan perannya. Dengan pendekatan persuasif, ia merangkul para petani, mendengar tanpa menyela, berbicara tanpa menggurui. Kata-katanya sederhana, tapi mengena seperti embun yang jatuh pelan, meredakan panas yang membara.


“Semua ini harus kita selesaikan dengan kepala dingin,” kira-kira begitu pesan yang ia gaungkan di tengah kerumunan. Dan perlahan, suasana yang tadinya tegang mulai melunak. Blokade yang sempat menutup akses, akhirnya dibuka. Jalan kembali bernapas, 28/04/2026.


Langkah cepat Kapolsek Paiton ini bukan sekadar respons, tapi cerminan kepemimpinan yang hadir di saat genting. Ia tak menunggu situasi reda, justru turun langsung saat api masih menyala. Sebuah tindakan yang menunjukkan bahwa keamanan bukan hanya soal penegakan, tapi juga tentang rasa.


Di sisi lain, persoalan utama tetap menjadi catatan serius. PT PP sebagai pelaksana proyek tol dinilai abai terhadap akses vital petani. Harapan kini menggantung agar ada solusi nyata, bukan sekadar janji yang hilang tertiup angin.


Peristiwa ini menjadi pengingat. Bahwa di balik megahnya pembangunan, ada suara kecil yang tak boleh diabaikan. Dan di tengah riuhnya konflik, kehadiran sosok seperti Riyono menjadi penyeimbang mengubah amarah menjadi harapan, dan ketegangan menjadi jalan keluar.

(MH**)