Suara Tegas dari Lapangan, Atas Arahan Kapolres, Kasat Intelkam AKP Hartanto Redam Gejolak Petani dan Desak PT PP Bertindak Cepat

Redaksi

 


Nusantara News Probolinggo — Siang itu seperti drum yang ditabuh keras-keras. Dusun Talang, Desa Sumberanyar, bergetar oleh gelombang kekecewaan para petani. Jalan tol Probowangi Paket 3 tak lagi sekadar proyek . Ia menjelma tembok yang memutus akses hidup. Spontan, tanpa komando, blokade pun terjadi. Jalan besar itu mendadak terhenti, seolah ikut menahan napas.


Di tengah pusaran emosi, hadir sosok yang membawa arah. Kapolres Probolinggo melalui Kasat Intelkam Polres Probolinggo, AKP Hartanto, turun langsung ke titik panas. Bukan sekadar memantau dari jauh, tapi berdiri di tengah kerumunan, menyerap suara yang tumpah ruah.


Dengan nada tegas namun tetap terukur, AKP Hartanto meminta para petani untuk tetap tenang. Ia mengajak warga menahan amarah, agar situasi tidak berubah menjadi sesuatu yang lebih sulit dikendalikan. Kata-katanya mengalir, pelan tapi pasti, seperti air yang menenangkan batu panas.


“Semua ada jalannya, jangan sampai tindakan ini justru merugikan kita sendiri,” Menjadi pesan yang menggema di antara kerumunan, 28/04/2026.


Akar persoalan tak perlu ditutup-tutupi. PT PP sebagai pelaksana proyek tol dinilai abai terhadap akses jalan petani. Jalur di bawah jembatan tol yang selama ini jadi urat nadi aktivitas, kini tak bisa dilalui. Seolah ada pintu yang dikunci dari luar, sementara pemiliknya dibiarkan mencari jalan sendiri.


Tak berhenti pada upaya meredam massa, AKP Hartanto juga menyampaikan dorongan tegas kepada pihak pelaksana. Atas arahan Kapolres Probolinggo, ia meminta PT PP segera mengeksekusi permintaan warga. Tidak ada ruang untuk menunda, tidak ada alasan untuk berdiam. Sebab setiap hari yang terlewat, ada aktivitas petani yang tersendat.


Perlahan, ketegangan yang sempat menegang seperti tali ditarik, mulai mengendur. Blokade jalan tol dibuka kembali. Arus yang sempat tertahan, kembali mengalir. Meski begitu, bara kekecewaan belum sepenuhnya padam . Ia masih tersisa menunggu kepastian.


Peristiwa ini menjadi cermin. Bahwa pembangunan besar tak boleh menelan suara kecil. Dan di tengah riuh konflik, langkah cepat aparat seperti yang dilakukan Kasat Intelkam AKP Hartanto menjadi penyeimbang, menjaga agar api tak berubah jadi kebakaran.


Kini, bola ada di tangan PT PP. Janji tak lagi cukup. Yang dibutuhkan adalah tindakan nyata. Karena jika tidak, suara yang hari ini mereda, bisa kembali menggema lebih keras, lebih tajam, dan tak mudah lagi diredam.

(MH**)