Nusantara News Probolinggo — Angin panas berembus dari balik distribusi pupuk subsidi. Bukan sekadar soal kelangkaan atau antrean panjang petani yang mengular seperti nasib tanpa ujung, tapi kini muncul dugaan yang lebih mengusik, praktik pungutan liar yang menyeret nama seorang oknum anggota DPRD Kabupaten Probolinggo berinisial 'MS'.
Isu ini bukan sekadar bisik-bisik warung kopi. Sejumlah sumber menyebut, setelah sebelumnya diduga menarik biaya dari distribusi Delivery Order (DO) pupuk, oknum tersebut kembali memainkan peran lain memungut biaya dengan dalih perizinan kios pupuk. Seolah belum cukup mengeruk dari satu pintu, kini pintu lain pun diketuk, bahkan didobrak.
Petani dan pelaku usaha kecil di sektor pertanian menjadi pihak yang paling tercekik. Di tengah harga kebutuhan yang kian menggila, mereka justru dihadapkan pada beban tambahan yang tak masuk akal. Ironisnya, pungutan itu diduga datang dari sosok yang seharusnya menjadi wakil rakyat pelindung, bukan pemalak berkedok kebijakan.
“Kalau benar ini terjadi, ini bukan sekadar pelanggaran, tapi pengkhianatan,” Ujar salah satu sumber dengan nada getir. Ia menggambarkan situasi seperti lingkaran setan, petani butuh pupuk, pupuk dikendalikan, lalu aksesnya dipersulit dengan biaya-biaya siluman. Semua berjalan rapi, seperti mesin yang sudah lama dilumasi.
Dugaan praktik ini pun memunculkan pertanyaan besar , apakah sistem distribusi pupuk di Probolinggo telah disusupi kepentingan pribadi? Ataukah ini hanya puncak gunung es dari permainan yang lebih dalam dan lebih gelap?
Nama 'MS' kini menjadi sorotan. Publik mulai menuntut kejelasan, bukan sekadar klarifikasi basa-basi yang sering berakhir seperti asap menghilang tanpa bekas. Aparat penegak hukum didesak turun tangan, bukan hanya melihat dari kejauhan, tapi benar-benar membongkar jika ada praktik kotor di dalamnya.
Jika dugaan ini terbukti, maka bukan hanya hukum yang harus ditegakkan, tapi juga kepercayaan publik yang sudah lama retak. Sebab ketika wakil rakyat justru menjadi bagian dari masalah, maka yang tersisa hanyalah satu pertanyaan pahit.
(MH**)

