Nusantara News Probolinggo — Lampu kamera menyala, tapi rasa aman redup. Kebijakan Pemerintah Daerah Kabupaten Probolinggo yang mengandalkan pemasangan CCTV untuk menekan aksi begal kini menuai kritik tajam. Di tengah gegap gempita program pengawasan digital, fakta di lapangan justru berbisik getir. Kamera boleh banyak, tapi kejahatan tetap lolos di celah gelap yang tak tersentuh.
Sorotan semakin tajam ketika publik mengingat kembali insiden pencurian yang pernah terjadi di lingkungan kantor Pemkab Probolinggo sendiri tempat yang semestinya menjadi simbol keamanan. Ironis, di jantung pemerintahan yang dipasangi mata elektronik, justru kecolongan. Seolah kamera hanya jadi pajangan, bukan penjaga.
Kebijakan menggandeng toko modern untuk pemasangan CCTV pun dinilai tak lebih dari solusi tambal sulam. Alih-alih membangun sistem keamanan yang menyentuh akar persoalan, langkah ini dianggap sekadar memoles permukaan. Begal tak gentar oleh kamera diam, mereka bergerak cepat, liar, dan tahu persis kapan harus menghilang.
Presiden GAPKM, Juned ST, angkat suara dengan nada yang tak lagi bisa dibungkam. Ia menegaskan bahwa pendekatan satu arah dengan mengandalkan teknologi semata adalah kesalahan fatal.
“Masalah begal ini bukan sekadar soal pengawasan visual. Ini soal kehadiran nyata di lapangan. Harus ada gerakan bersama,” Tegasnya saat dikonfirmasi di Istana Naga, 3/5/2026.
Menurutnya, solusi konkret justru terletak pada kolaborasi lintas sektor. Pemerintah daerah diminta tak cuci tangan dan menyerahkan semuanya pada polisi. Satpol PP, Dinas Perhubungan, hingga masyarakat harus turun langsung. Program siskamling yang dulu hidup, kini seperti bara yang nyaris padam perlu ditiup kembali agar menyala terang.
Juned menekankan pentingnya pendirian pos-pos keamanan di titik rawan, dikoordinir pemerintah desa. Bukan sekadar formalitas, tapi benar-benar aktif menjaga. Di saat yang sama, Satpol PP dan Dishub didorong untuk rutin patroli, bukan hanya jadi pelengkap di atas kertas.
“Kalau hanya mengandalkan polisi, jelas tidak maksimal. Personel terbatas. Ini tanggung jawab bersama, semua digaji negara, semua punya peran,” Ujarnya tajam.
Nada kritik ini seperti alarm keras di tengah malam. Mengingatkan bahwa keamanan bukan soal alat canggih semata, tapi soal kepedulian dan kehadiran. Masyarakat pun tak bisa terus jadi penonton. Lingkungan yang aman lahir dari mata yang waspada, telinga yang peka, dan langkah yang bergerak bersama.
(MH**)

