Buruh Bukan Budak! Presiden GAPKM Juned ST Pasang Badan Dukung Aksi Damai FSPMI Probolinggo, Upah Jadi Harga Mati !

Redaksi

 


Nusantara News Probolinggo - Angin perubahan berembus dari barisan buruh. Di tengah gemuruh tuntutan yang makin nyaring, Presiden GAPKM, Juned ST, tampil lantang mendukung aksi damai Serikat Pekerja FSPMI KC Kabupaten Probolinggo. Dukungan itu bukan basa-basi karena soal martabat , soal perut , soal masa depan daerah.


Juned ST menegaskan, perjuangan buruh terutama Upah Minimum Kabupaten (UMK) dan UMSK bagi sektor KBLI perusahaan dengan pekerjaan resiko tinggi bukan permintaan berlebihan. “Kalau UMK Probolinggo tak naik signifikan, denyut nadi ekonomi daerah akan melemah, Ekonomi tanpa buruh sejahtera ibarat mesin tanpa oli berisik, panas, lalu macet", Ujarnya,19/12/2025.


Ia mengingatkan, buruh adalah tulang punggung perekonomian Indonesia. Kontribusinya nyata, keringatnya mengalir setiap hari. Maka sudah seharusnya buruh mendapat keistimewaan kebijakan dari pemerintah dan pengusaha tanpa harus meneteskan air mata di jalanan. “Jangan memperbudak buruh. Pengusaha dan buruh saling membutuhkan , Kenaikan Upah tidak membuat Investor lari ,” Tegas Juned, menohok namun adil.


Sorotan keras diarahkan pada Pemerintah Kabupaten Probolinggo, khususnya Dinas Tenaga Kerja, serta aparat penegak hukum Polres dan Kejaksaan. Juned meminta sanksi tegas bagi perusahaan nakal cabut izin operasional dan proses pidana bagi pengusaha yang membayar upah di bawah ketentuan. “Itu bukan pelanggaran kecil. Itu kejahatan, Kenaikan Upah ", Katanya tanpa tedeng aling-aling.


Nada harapan tetap dinyalakan. Juned menagih janji manis pemerintahan baru yang dulu diucap saat kampanye. Janji tak boleh jadi poster lusuh di dinding. Ia harus hidup dalam kebijakan. “Kalau pemerintah daerah abai pada nasib buruh UMK dan UMSK kami akan mempertanyakan kinerjanya,” Ucapnya, tenang tapi menggetarkan.


Namun, pesan paling tegas datang di ujung pernyataan. Bila seruan ini berlalu seperti angin, GAPKM tak akan diam. “Kami ingin damai. Tapi kalau telinga ditutup, tekanan publik akan membesar , kami bersedia bergabung dengan buruh dan elemen masyarakat kabupaten Probolinggo melakukan demonstrasi besar-besaran dalam sejarah yang belum terjadi,” Katanya. Seruan persatuan seluruh elemen masyarakat pun mengemuka demi kemajuan bersama, demi tata kelola yang bersih dari praktik Asal Bapak Bahagia.


Aksi damai FSPMI hari ini adalah cermin. Ia memantulkan wajah Probolinggo yang diinginkan adil, berani, dan berpihak. Buruh bukan angka. Buruh adalah manusia. Dan ketika manusia dihargai, daerah pun akan harum namanya bukan oleh slogan, melainkan oleh kesejahteraan yang nyata.

(MH**)