Nusantara News Probolinggo - Dalam suasana pagi yang masih berembun, jajaran Koramil 0820-07/Wonomerto kembali turun ke lapangan memberi bekal penting bagi para pelajar tentang wawasan kebangsaan dan kedisiplinan. Kegiatan yang digelar pada Jumat (12/12) itu menjadi langkah serius TNI dalam menangkal paham radikalisme sekaligus menanamkan nasionalisme sejak dini—dua hal yang belakangan makin dibutuhkan di tengah derasnya arus informasi.
Di hadapan para siswa, Peltu Ismail berdiri tegap. Ia menjelaskan bahwa pelatihan ini bukan sekadar rutinitas, melainkan upaya membangun karakter generasi muda. “Kami ingin para siswa betul-betul memahami aturan dasar dalam baris-berbaris sekaligus mengenal apa itu wawasan kebangsaan,” ucapnya, suaranya mengalun tegas namun bersahabat.
Sebelum praktik dimulai, para pelajar mendapat teori dasar. Mereka diajak memahami gerakan berpola—dari sikap di tempat, langkah berjalan, hingga tata cara penghormatan yang benar. Setiap instruksi seperti menghidupkan ritme di halaman sekolah, seolah mengajarkan bahwa kedisiplinan lahir dari hal-hal kecil yang dilakukan berulang.
Pada sesi wawasan kebangsaan, suasananya bergeser menjadi lebih reflektif. Peltu Ismail mengajak peserta untuk menyelami nilai-nilai Pancasila, bukan sekadar menghafal. Mereka diajak merenungi maknanya—tentang toleransi, saling menghormati, hingga cinta tanah air. “Harapannya, para siswa tumbuh sebagai generasi yang memiliki jiwa nasionalisme tinggi,” tuturnya.
Dengan senyum ramah, Peltu Ismail menegaskan bahwa kegiatan ini adalah bagian dari tanggung jawab TNI. Bukan hanya menjaga keamanan negara, tapi juga mempersiapkan anak bangsa menghadapi tantangan masa depan yang kerap datang tanpa aba-aba. “Ini adalah bentuk kepedulian kami,” tambahnya.
Ia juga berharap kegiatan seperti ini bisa mempererat hubungan antara TNI dan lembaga pendidikan dalam wilayah teritorial. Kolaborasi ini, menurutnya, menjadi penting untuk menciptakan sumber daya manusia yang cerdas, tangguh, dan berkarakter. “Semoga kerja sama ini terus berlanjut,” pungkasnya, menutup pelatihan dengan harapan yang mengalir seperti angin yang menerpa lapangan tempat mereka berdiri.
(SF**)

