Topeng Ganda Terbongkar! Presiden GAPKM Siap Seret Praktik Rentenir Ilegal di Kaliacar ke Meja Hukum

Redaksi

 


Nusantara News Probolinggo — Riuh yang semula berbisik kini meledak jadi sorotan. Dugaan praktik rentenir ilegal di Kaliacar, Kecamatan Gading, tak hanya menyisakan jejak utang, tapi juga membuka lapisan lain yang lebih mencengangkan. Di balik pusaran ini, muncul dugaan klaim profesi ganda wartawan sekaligus pengacara yang justru dinilai menjadi tameng untuk menutupi aktivitas yang dipertanyakan.


Presiden GAPKM, Juned ST, tak lagi menahan diri. Ia menyatakan siap melaporkan praktik pinjaman ilegal yang disertai intimidasi tersebut ke aparat penegak hukum. Baginya, ini bukan sekadar pelanggaran biasa, melainkan bentuk penyalahgunaan kepercayaan yang dibungkus rapi dengan citra profesional.


Dugaan yang beredar menyebutkan, pelaku usaha ilegal tersebut menjalankan skema pinjaman dengan memanfaatkan platform online, lalu meminjamkannya kembali kepada warga dengan bunga tinggi dan denda berlapis. Situasi ini makin pelik ketika keluarga pelaku ikut terseret dalam sorotan, terutama sang suami yang mengaku memiliki dua profesi sekaligus wartawan dan pengacara.


Alih-alih memberi rasa aman, klaim profesi itu justru dipandang sebagai alat tekanan. Warga merasa posisi mereka semakin lemah, seolah berhadapan dengan sosok yang “kebal” hukum. Dalam kondisi seperti ini, rasa takut bukan lagi bayangan, tapi kenyataan yang mengikat hari demi hari.


“Kalau benar ada yang mengaku wartawan dan pengacara tapi dipakai untuk menakut-nakuti warga, itu sudah keterlaluan. Profesi itu punya kode etik, bukan untuk melindungi praktik ilegal,” Tegas Juned dengan nada tajam.


Ia menambahkan, praktik meminjamkan uang kepada banyak orang dengan sistem bunga dan denda jelas masuk kategori usaha. Tanpa izin resmi, itu adalah pelanggaran yang tak bisa ditawar. Apalagi jika disertai intimidasi itu sudah masuk ranah pidana, Selasa (14/4/2026) saat dikonfirmasi di Istana Naga.


“Jangan main-main dengan rakyat kecil. Mengatasnamakan profesi untuk menekan korban itu bukan cerdas, itu licik. Kami akan bawa ini ke ranah hukum. Tidak ada yang kebal,” Lanjutnya, dingin namun menghantam.


Sejumlah warga Kaliacar mengaku hidup dalam tekanan. Penagihan dilakukan dengan nada tinggi, gestur mengancam, bahkan menyentuh ranah psikologis. Mereka bukan hanya dibebani utang, tapi juga ketakutan yang terus menghantui.

(MH**)